Jumat, 25 Maret 2011

Perang Libya, Perang Demokrasi atau Perang Minyak?

Moammar Khadafy, pemimpin Libya yang menggulingkan Raja Idris I pada 1970

     Keadaan yang semakin memanas di Libya kini mulai mengambil alih perhatian dunia. Sejak Zona Larangan Terbang (No Fly Zone) diterapkan di angkasa Libya pada 17 Maret 2011 menyusul kekerasan yang dilakukan pemimpin Libya Moammar Khadafy (68) terhadap kaum oposisi, pihak koalisi yang dipimpin Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis mulai gencar menjalankan aksi militer dengan sasaran pangkalan udara Libya. Dengan alasan untuk menegakkan Zona Larangan Terbang, angkatan udara koalisi menyerbu Khadafy untuk membela oposisi yang mulai terdesak di Benghazi, kota terbesar kedua di Libya setelah Tripoli yang dikuasai oposisi.
     Zona Larangan Terbang sudah disepakati oleh semua anggota Dewan Keamanan PBB. Meski 5 dari 15 negara anggota menyatakan abstain, resolusi PBB 1973 itu tetap dijalankan. Kelima negara yang abstain itu adalah Republik Rakyat Cina, Rusia, Jerman, India, dan Brazil. Ini sangat menarik. Sebab Dewan Keamanan sendiri terbagi menjadi dua kubu, yakni kanan dan kiri. Di kubu kanan, ada Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, sementara di kubu kiri ada Rusia dan Republik Rakyat Cina. Pihak kiri, yang diikuti Jerman, India, dan Brazil, merasa krisis politik Libya adalah masalah internal yang harus diselesaikan Libya sendiri, yang apabila diganggu gugat sama saja dengan mencampuri kedaulatan Libya. Tujuh negara lainnya yang menyetujui resolusi adalah Portugal, Bosnia-Herzegovina, Kolombia, Nigeria, Lebanon, Gabon, dan Uni Afrika Selatan.
Kota Benghazi ketika loyalis Khadafy mencoba menggempur pertahanan oposisi di kota tersebut
     Keterlibatan Barat dalam krisis Libya memang memicu banyak pertanyaan. Apakah Amerika Serikat dan sekutunya tak juga bisa belajar dari masa lalu? Tidakkah mereka melihat Irak dan Afganistan? Semua negara yang diserang Amerika Serikat memicu kehancuran negara yang ditargetkan. Mengatasnamakan demokrasi, Presiden George W. Bush memberlakukan Operasi Badai Gurun (Desert Storm) yang menggulingkan rezim Saddam Hussein, yang justru membangkitkan Iran sebagai kekuatan militer terkuat di Timur Tengah yang dicemaskan Barat. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy menegaskan bahwa Operasi Fajar Odyssey (Operation Odyssey Dawn, nama operasi di Libya) tidak akan berakhir seperti Irak ataupun Afganistan. Obama menegaskan, angkatan darat tak akan dikerahkan selama keadaan masih terkendali.
Tertangkapnya Saddam Hussein
     Amerika Serikat segera mengerahkan angkatan lautnya menuju Pangkalan I di Reggio, Italia, untuk memastikan keadaan tetap aman. Sebelumnya, dua pilot Libya yang menolak mengebom massa langsung membelot dan meminta perlindungan hukum di Malta. North Atlantic Treaty Organization (NATO) memutuskan embargo senjata pada Libya, dan akan turut serta dalam operasi ini. Perancis menyiagakan angkatan udara di wilayah Selatan, dan Inggris juga melakukan hal yang sama ke Italia. NATO gagal memutuskan apakah akan terlibat langsung atau tidak karena Turki, yang merupakan satu dar 28 anggota NATO, menolak intervensi Barat pada Libya. Pangkalan NATO di Napoli, Italia, disiapkan oleh NATO apabila suatu saat 'tindakan tegas' harus dilakukan. Markas pusat strategis NATO, Supreme Headquarters Allied Power Europe (SHAPE) di Mons, Belgia, akan mengawasi operasi umum. Misi udara diawasi dari Izmir, Turki, tetapi taktis operasional sehari-hari diawasi dari Poggio Renatico, Italia.
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan
     Apa yang diinginkan Barat di Libya? Kemungkinan besar adalah minyak, sama seperti yang diincarnya sewaktu menyerang Irak. Libya adalah eksportir minyak dunia yang menyumbang 2% dari seluruh minyak impor dunia. Meski hanya 2%, tetapi Libya memiliki keunikan tersendiri. Minyak Libya sangat bersih, murni, dan baik digunakan. Dibandingkan dengan minyak lainnya di Timur Tengah dan Amerika Latin, pasokan minyak Libya banyak diincar negara-negara Barat, seperti Italia, Spanyol, dan Belanda. Minyak inilah yang diincar Barat. Mengapa?
     Krisis Ekonomi Eropa, yang dimulai dari tahun 2008 dan belum berakhir sampai sekarang, adalah masalah utama yang belum dapat diselesaikan oleh Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Dimulai dari hancurnya ekonomi Yunani, zona euro mengalami kerentanan ekonomi sejak dana talangan diberikan Brussels pada Athena. Setelah Yunani lumpuh, Irlandia menyusul setelah ekonominya terseok-seok dan harus disuntik dana talangan dari Uni Eropa. Ketika kedua negara belum pulih dari krisis, kehancuran ekonomi mulai merembet ke negara-negara Uni Eropa lainnya. Investor-investor asing yang melihat keadaan, yang cemas pemerintah Eropa tak akan sanggup melunasi lilitan hutang yang meninabobokkan mereka sejak masa Perang Dingin, mulai mencabut investasi mereka dan beralih pada negara-negara berkembang. Republik Rakyat Cina, India, Rusia, Brazil, Arab Saudi, dan negara-negara Asia lainnya. Ini melahirkan Republik Rakyat Cina yang baru, yang menjadi adidaya menyaingi Amerika Serikat yang sedang terpuruk ekonominya menyusul kehancuran Uni Eropa.
Demonstrasi karena jatuhnya ekonomi Yunani, 2011
     Portugal harus megakui bahwa negaranya adalah negara pertama yang menyusul Irlandia. Hutang yang melebihi PDB membuat Uni Eropa cemas, akan tetapi Lisabon tetap tak ingin disamakan dengan Irlandia dan Yunani. Pemangkasan gaji dan penghematan besar-besaran menimbulkan demonstrasi besar-besaran di Lisabon dan Porto. Setelah Portugal oleng, Spanyol dan Italia mulai merasakan hal yang sama. Ekonomi mereka mulai mengalami penurunan yang signifikan. Pemerintah Britania Raya dan Irlandia Utara (United Kingdom) segera menaikkan harga-harga, termasuk pendidikan, yang memicu banyak penolakan di London. Ekonomi Jerman yang cukup stabil membuat negara tersebut tidak mengalam hal yang sama dengan tetangga-tetangga Eropanya, lebih baik daripada Perancis. Di lain pihak, Belgia dilanda krisis politik akibat pertentangan kaum berbahasa Belanda dan Perancis, yang mengakibatkan negara itu tak memiliki pemerintah setelah Raja meminta reformasi pemerintahan. Keadaan ini membuat Belgia dilanda krisis besar, yang membuat cemas dua sekutu utamanya, Belanda dan Luksemburg yang belum begitu oleng. Eropa Utara juga mengalami hal yang sama, termasuk Denmark yang sebelumnya optimis tak akan terimbas. Krisis ini meninggalkan Polandia, Hungaria, Republik Ceko, Republik Slovakia, Rumania, Bulgaria, dan negara-negara di Eropa Timur  serta negara-negara pecahan Yugoslavia yang tak terlilit hutang berlebihan, meski ekonomi mereka sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Namun, tidak sedrastis Eropa Barat dan anggota NATO sejak era Perang Dingin. Amerika Serikat justru kesulitan, hingga Operasi Fajar Odyssey yang menghabiskan dana US$800.000.000 harus ditanggung anak-cucu Amerika Serikat.
Demonstran membakar spanduk di depan kantor Partai Konservatif Inggris. Partai itu membawa Inggris dalam krisis ekonomi 2011 bersama negara-negara Uni Eropa lainnya dan Amerika Serikat
     Inilah yang mendasari serangan tersebut. Jika dilihat negara apa saja yang terlibat, maka pintu kenyataan akan terbuka lebar. Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, adalah dalang utamanya, yang menginginkan stabilitas ekonomi agar Republik Rakyat Cina tak menjadi kekuatan tunggal ekonomi dunia setelah Jepang runtuh akibat tsunami dan krisis nuklir Fukushima Daiichi. Negara lain yang terlibat adalah Spanyol, Kanada, Italia, Yunani, Belgia, Denmark, dan Norwegia. Meski tidak terlibat langsung, tetapi Yunani memberikan pangkalan udaranya untuk Belgia. Semuanya adalah negara yang mengalami krisis berkepanjangan yang tak kunjung reda. Kemungkinan besar mereka akan menyerbu Libya dan berharap ekonomi mereka dapat dipulihkan dari krisis melalui minyak. Jika ada pertanyaan mengapa Portugal, Yunani, dan Irlandia tak turut serta? Irlandia tak memiliki daerah yang strategis sebagai jalur menuju Libya. Perlu dana banyak untuk perang, sehingga pemerintah lebih mengutamakan perbaikan ekonomi daripada Libya. Jika Libya menghasilkan minyak, mereka juga perlu minyak untuk berjuang dalam perang. Dana yang tak memungkinkan membuat negara ini memilih diam, daripada harus melibatkan diri tanpa hasil yang begitu memuaskan.
Sementara Eropa dan AS sedang krisis, RRC yang komunis justru bangkit dan menikmati kekayaan yang melimpah ruah
     Yunani berbeda dengan Irlandia. Wilayahnya cukup strategis untuk transportasi menuju Libya, meski lebih praktis melalui Italia atau Malta. Yunani tidak terlibat secara langsung, sama seperti Irlandia, tetapi tetap saja negara ini turut terlibat dengan memberikan wilayahnya sebagai pangkalan udara Belgia yang turut serta. Diharapkan dengan ini Yunani dapat bangkit lebih cepat, setidaknya lebih cepat dari Irlandia, yang masih terseok-seok karena tak bisa mengambil keuntungan dalam 'perang minyak'. Portugal memang belum terlibat, dan diperkirakan belum akan terlibat. Negara ini menjaga kenetralannya bahkan sejak Perang Dunia II. Tetapi Portugal tak berniat hanya tinggal diam. Banyak yang berpikir, negara ini akan terlibat suatu saat nanti, ketika Libya berhasil 'digulingkan' dan dunia mulai beralih pada Aljazair, Yaman, Suriah, dan Bahrain. Portugal tak akan tinggal diam begitu Aljazair bergolak, dan akan berusaha meraih keuntungan dari negara itu, setelah melewatkan kesempatan emas ketika Tunisia bergolak dan melengserkan Presiden sekaligus diktator Zine al-Abidine Ben Ali.
Zine al-Abidine Ben Ali, Presiden tersingkir Tunisia
     Ketidakadilan ini dapat dilihat juga dari Bahrain. Mengapa Bahrain tak diberi sanksi padahal sama buruknya? Bahrain adalah sekutu utama Amerika Serikat di Teluk Persia, tempat Pangkalan V Amerika Serikat. Raja Hamad bin Isa Al Khalifa menduduki kekuasaan tahun 1999, dan kaum minoritas Sunni yang dianut raja menjadi penguasa di pemerintah. Begitu Mayoritas Syiah, yaitu 70% warga Bahrain, turun ke jalanan dan meminta keadilan dari sang raja, Arab Saudi dan tetangga-tetangga teluk, kecuali Qatar dan Iran, segera berdatangan. Perjuangan demokrasi di Bahrain tak akan semudah Tunisia dan Mesir, yang menjatuhkan diktator mereka dengan sukses. Pemerintah Bahrain didukung penuh oleh Barat dan Arab Saudi, yang tak akan membiarkan kaum Syiah yang dianut Iran menduduki tampuk kekuasaan. Ketika demonstrasi memarah, Bahrain meminta pertolongan Gulf Cooperation Council (GCC) yang beranggotakan Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, dan Kuwait, untuk mengamankan keadaan. Tentara Arab Saudi dan polisi Uni Emirat Arab langsung berdatangan ke Bahrain untuk membubarkan demonstrasi, yang dikecam oleh Iran dan Lebanon yang mendukung mayoritas Syiah Bahrain. Di antara semua negara Timur Tengah, hanya Suriah, Lebanon, dan Qatar yang merupakan sekutu dan teman dekat Iran.
Lambang GCC
     Apakah ini keadilan Amerika Serikat? Ketika sekutunya, Israel, menyerang warga sipil di Palestina, hanya diam seribu bahasa? Diperkirakan Revolusi Arab juga adalah bentuk pergolakan ciptaan Amerika Serikat dan Israel. Amerika Serikat pernah mengobarkan istilah 'Timur Tengah Baru'. Apakah Timur Tengah baru itu adalah revolusi yang terjadi sekarang ini? Seorang pakar politik Timur Tengah di New York mengatakan bahwa ada fasilitas pengendalian yang berpangkalan di Tel Aviv. Tumbangnya Presiden Tunisia, Zine Al Abidine Ben Ali, yang sudah berkuasa selama 23 tahun, adalah langkah kedua yang diambil Amerika Serikat setelah langkah pertama mereka 'kurang' memuaskan di Irak. Misi pertama mereka adalah menyingkirkan Saddam Hussein yang tak bisa diajak bekerjasama dengan Barat, yang anti-zionisme dan tak bisa dikendalikan. Setelah menjatuhkan Saddam, langkah kedua yang mereka inginkan adalah menguasai Timur Tengah dan minyaknya, serta menjaga agar Israel tetap menjadi negara kuat di kawasan. Ben Ali jatuh setelah konspirasi yang membuat dirinya terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi. Namun, langkah ketiga mereka justru menimbulkan kesalahan. Revolusi Melati di Tunisia menimbulkan semangat rakyat Mesir untuk meruntuhkan 'dinasti' otokratik. Ketika Hosni Mubarak, presiden tersingkir Mesir yang berkuasa selama 32 tahun, berada di ujung tanduk, Amerika Serikat dan, terutama, Israel terlihat gugup. Mubarak adalah sekutu utama Israel di kawasan, dan begitu Revolusi Nil melengserkan kekuasaan Mubarak, kini Israel diapit oleh empat musuh yang bisa mengancam kapan saja, yaitu Mesir, Suriah, Lebanon, dan kaum militan Palestina, yang didukung Iran. Tak mustahil Arab Saudi akan berbalik jika Raja Abdullah, yang jadi sekutu Amerika Serikat, tersingkir. Hanya Jordania, tetangga sekaligus sekutu di selatan, yang menjadi tembok pelindung Israel.
Hosni Mubarak, presiden tersingkir Mesir
     Ketika aksi 'tak diinginkan' di Jordania berhasil ditekan dan menyelamatkan pemerintah Jordania yang menjadi sekutu Barat, dan begitu usaha menyelamatkan Mubarak gagal, 'operasi revolusi' mulai ditujukan oleh Moammar Khadafy, penguasa Libya yang sudah memimpin negara itu selama 41 tahun 6 bulan. Khadafy adalah musuh Barat di Afrika Utara, yang keras dan sosialis, yang didukung oleh Republik Rakyat Cina dan negara-negara di Amerika Latin. Khadafy pernah membiayai terorisme pada era 1970'an hingga 1980'an, yang berakhir setelah Amerika Serikat mengebom Tripoli. Khadafy juga terlibat dalam kasus pengeboman Skotlandia. Jatuhnya Khadafy akan membuka 'Timur Tengah Baru'. Setelah Khadafy, kemungkinan besar sasaran berikutnya adalah Suriah, Lebanon, Aljazair, dan, yang terakhir dan akan menjadi yang paling sulit, Iran. Iran adalah musuh Amerika Serikat dan Barat yang bersuara lantang, yang mendukung Khadafy, Syiah Bahrain, dan Hezbollah Lebanon. Berbeda dengan Libya, Iran adalah sekutu utama Rusia dan Republik Rakyat Cina di Timur Tengah. Iran juga didukung oleh Pakistan, Qatar, Lebanon, Suriah, Mesir, Libya, Brazil, India, Pakistan, dan Korea Utara. Segala gangguan dan serangan terhadap Iran akan dianggap isyarat perang oleh Rusia dan Republik Rakyat Cina. Amerika benar-benar harus berhati-hati dalam mengendalikan 'Operation New Middle East'. Apabila salah langkah, justru dirinyalah yang akan dirugikan. Setelah berhasil menyelamatkan sekutunya, yaitu Jordania, Kuwait, dan Arab Saudi serta Bahrain dari demonstrasi, kini Barat terfokus pada Libya dan Khadafy. Tak disangkan, Khadafy kuat dan keras kepala. Akan cukup sulit menjatuhkan Khadafy. Mereka harus berlomba. Apabila Khadafy berhasil merebut Benghazi dari oposisi terlebih dahulu, maka Operasi Timur Tengah Baru bisa terancam gagal. Apabila Tripoli berhasil ditaklukkan oposisi, maka operasi dapat menginspirasi rakyat Arab lainnya, yang dapat menyukseskan Operasi Timur Tengah Baru. Kita lihat saja hasilnya.
Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, dengan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, seusai pertemuan di Moskow, Rusia
     Keputusan yang terlalu memihak Israel membuat negara itu tak lagi menjadi penurut dari setiap langkah skenario Amerika Serikat. Penggulingan Irak membuat Iran hadir sebagai kekuatan militer terkuat di Timur Tengah. Penjatuhan Afganistan, yang berakibat fatal pada Pakistan, membuat India keluar tanpa saingan di kawasan. Pengaruh yang tak begitu kuat membuat Amerika Selatan jatuh ke tangan sosialis yang dipimpin Brazil. Perhatian yang kurang pada Eropa Timur membuat Rusia menjadi pemegang kendali atas kawasan tersebut. Sekarang, Republik Rakyat Cina menjadi tantangan terbesar Amerika Serikat.
Presiden Republik Rakyat Cina, Hu Jintao. Republik Rakyat Cina menjadi kekuatan baru yang menyaingi Amerika Serikat

     Bagaimana hasil dari Perang Libya? Jika memang minyak yang diinginkan Barat, maka semua percuma. Khadafy sudah bersumpah, Barat tak akan mendapatkan minyak Libya karena akan dibumihanguskan.

Presiden Iran bersama dengan para pemimpin negara-negara sekutunya, Rusia, Republik Rakyat Cina, India, dan Brazil

2 komentar:

  1. keren....
    tambah lagi artikelnya...
    masak cuman satu

    BalasHapus
  2. Oh iya dong. Terus ikuti ok? Akan terus diperbarui. Tapi aku belum tahu cara design-nya. Haha

    BalasHapus